Apa Itu Framework dalam Pembuatan Website?

Table of Contents

Kalau kamu pernah dengar developer ngobrol soal “pakai Laravel” atau “project ini pakai React”, itu mereka sedang membicarakan framework. Istilah ini sering muncul di dunia pengembangan website, tapi buat orang awam terdengar abstrak dan susah dibayangkan. Padahal, konsepnya sebenarnya cukup sederhana kalau dijelaskan dengan analogi yang tepat. Yuk kita bahas apa itu framework dan kenapa hampir semua developer memakainya. 

 

Apa Itu Framework? 

Framework adalah kerangka kerja berisi kumpulan kode, struktur, dan aturan yang sudah disiapkan sebelumnya, yang membantu developer membangun website atau aplikasi tanpa harus menulis semuanya dari nol. Anggap saja framework ini seperti fondasi dan kerangka rumah yang sudah jadi, developer tinggal menambahkan dinding, cat, dan furnitur sesuai kebutuhan proyek, tanpa perlu memikirkan ulang bagaimana caranya membuat pondasi yang kuat dari awal. 

Tanpa framework, developer harus menulis setiap fungsi dasar sendiri, mulai dari cara menghubungkan website ke database, mengatur keamanan, sampai menangani tampilan halaman. Ini tentu memakan waktu jauh lebih lama dan rawan kesalahan. 

 

Kenapa Developer Memilih Pakai Framework? 

  • Menghemat waktu pengembangan, karena banyak fungsi dasar sudah tersedia dan tinggal dipakai. 
  • Struktur kode lebih rapi, karena framework biasanya punya aturan baku tentang bagaimana kode harus disusun, sehingga lebih mudah dipahami developer lain yang ikut mengerjakan proyek yang sama. 
  • Lebih aman, karena framework populer biasanya sudah teruji banyak developer dan rutin mendapat pembaruan keamanan. 
  • Komunitas dan dokumentasi luas, sehingga developer lebih mudah mencari solusi kalau menemukan masalah saat proses pengembangan. 

 

Jenis-Jenis Framework Berdasarkan Fungsinya 

Framework Sisi Server (Backend) 

Framework jenis ini menangani proses di balik layar, seperti mengambil data dari database, mengatur logika bisnis, dan memastikan website berjalan sesuai fungsinya. Beberapa contoh yang populer: 

  • Laravel, dibangun dengan bahasa pemrograman PHP. 
  • Django, dibangun dengan bahasa pemrograman Python. 
  • Express.js, dibangun dengan JavaScript (Node.js). 

 

 

Framework Sisi Tampilan (Frontend) 

Framework jenis ini fokus pada apa yang dilihat dan berinteraksi langsung dengan pengunjung website, seperti tombol, formulir, atau animasi di halaman. Beberapa contoh yang populer: 

  • React, dikembangkan oleh Meta (Facebook). 
  • Vue.js, dikenal karena kemudahannya dipelajari pemula. 
  • Angular, dikembangkan oleh Google. 

 

Framework vs CMS, Apa Bedanya? 

Banyak orang suka tertukar antara framework dan CMS (Content Management System) seperti WordPress. Perbedaan utamanya: 

  • CMS dirancang supaya pengguna tanpa kemampuan coding tetap bisa membuat dan mengelola website, biasanya lewat dashboard yang tinggal klik-klik. 
  • Framework dirancang untuk developer yang memang menulis kode, memberi kebebasan lebih besar untuk membangun fungsi sesuai kebutuhan spesifik proyek, tapi butuh kemampuan teknis untuk memakainya. 

 

Jadi kalau kamu ingin membuat website sederhana tanpa perlu coding, CMS lebih cocok. Tapi kalau proyek kamu butuh fungsi khusus yang kompleks dan unik, framework memberi fleksibilitas yang lebih besar. 

 

Ngomong-ngomong soal CMS, kalau kamu memilih jalur WordPress, Jetdino punya paket Personal Hosting yang memang dioptimalkan untuk WordPress, sudah dilengkapi LiteSpeed Web Server dan cPanel supaya proses instal tema, plugin, sampai pengelolaan website tetap ringan dan mudah tanpa perlu sentuh kode sama sekali. 

 

Apakah Framework Mempengaruhi Kebutuhan Hosting? 

Ya, jenis framework yang dipakai bisa memengaruhi kebutuhan server. Beberapa framework backend butuh dukungan bahasa pemrograman tertentu untuk bisa berjalan di server, misalnya Laravel butuh dukungan PHP dengan versi tertentu, sementara Django butuh dukungan Python. Sebelum memilih layanan hosting, ada baiknya pastikan dulu server yang kamu gunakan mendukung framework yang dipakai dalam proyek website kamu. 

 

Kalau proyek kamu berbasis framework PHP seperti Laravel, paket Personal Hosting Jetdino sudah dilengkapi fitur PHP Selector yang mendukung multi-versi PHP dari 5.x hingga 8.x, jadi kamu bisa menyesuaikan versi PHP sesuai kebutuhan framework tanpa migrasi server, lengkap dengan Daily Backup, Free SSL, dan Full Protection DDoS untuk menjaga keamanan proyek kamu. Untuk proyek framework dengan kebutuhan resource lebih besar (seperti aplikasi Node.js atau Python yang butuh kontrol server penuh), Jetdino juga menyediakan layanan Cloud VM yang bisa disesuaikan spesifikasinya dengan kebutuhan proyek kamu. 

 

 

Framework pada dasarnya adalah alat bantu yang membuat proses pembuatan website jadi lebih cepat, rapi, dan aman, karena developer tidak perlu membangun semuanya dari nol. Memahami konsep dasar ini juga membantu kamu berkomunikasi lebih baik dengan tim developer kalau suatu saat kamu terlibat dalam proyek pembuatan website. 

 

Kalau kamu sedang membangun website berbasis framework atau CMS seperti WordPress, Jetdino menyediakan Personal Hosting dengan LiteSpeed Web Server dan dukungan PHP multi-versi, hingga Cloud VM untuk kebutuhan proyek yang lebih kompleks. Yuk, wujudkan proyek website kamu bareng Jetdino, karena Bisnisnya Lancar, Cuan Semakin Gencar. 

Topic :

Promo JETDINO

Table of Contents