Dalam dunia teknologi informasi, khususnya pada infrastruktur data center, istilah “tier” kerap dipakai untuk menunjukkan tingkat keandalan serta ketersediaan sebuah data center. Lalu, apa sebenarnya arti tier dalam konteks data center? Simak penjelasan lengkapnya pada artikel berikut ini.
Apa Itu Tier Dalam Data Center?
Klasifikasi data center mulai dikenal sejak tahun 1990-an, bersamaan dengan pesatnya perkembangan industri internet yang membutuhkan server untuk mendukung operasionalnya. Istilah tier sendiri digunakan untuk menunjukkan tingkatan dalam sebuah data center. Jika dianalogikan seperti hotel, semakin tinggi kelas atau jumlah bintangnya, maka semakin lengkap dan eksklusif fasilitas yang diberikan.
Begitu pula pada data center, semakin tinggi level tier yang dipilih maka semakin banyak fasilitas dan dukungan yang tersedia untuk kebutuhan penyimpanan data website. Secara umum, tier data center merupakan sistem klasifikasi yang digunakan untuk menggambarkan standar infrastruktur server atau pusat penyimpanan data secara konsisten dan terstruktur.
Fungsi Tier Pada Data Center
Fungsi tier pada data center memiliki peranan penting yang perlu dipahami. Berikut ini beberapa fungsi utama tier dalam data center.
- Menilai Keandalan dan Ketersediaan
Tier digunakan sebagai acuan untuk mengukur serta mengklasifikasikan tingkat keandalan dan ketersediaan infrastruktur data center. Melalui sistem ini, perusahaan dapat menentukan tingkat redundansi dan toleransi gangguan yang dibutuhkan agar operasional bisnis tetap berjalan dengan baik. - Membantu Perencanaan Infrastruktur
Tier juga berfungsi membantu organisasi merancang infrastruktur data center yang sesuai kebutuhan. Dengan memilih tier yang tepat, perusahaan dapat memastikan sistem memiliki tingkat keandalan dan cadangan yang memadai sehingga risiko downtime dapat diminimalkan. - Menentukan Besarnya Investasi
Sistem tier menjadi panduan dalam menentukan investasi yang diperlukan untuk membangun maupun mengelola data center. Semakin tinggi tier yang dipilih, biasanya semakin besar pula biaya infrastruktur dan teknologi yang dibutuhkan. Karena itu, organisasi perlu menyesuaikannya dengan kebutuhan bisnis dan anggaran yang dimiliki. - Mengukur Kualitas Layanan
Tier dapat dijadikan indikator untuk menilai tingkat keandalan layanan sebuah data center. Data center dengan tier lebih tinggi umumnya memiliki risiko downtime yang lebih rendah. Hal ini memudahkan perusahaan dalam membandingkan kualitas layanan antar data center maupun penyedia layanan. - Meningkatkan Kepercayaan Pelanggan
Infrastruktur data center dengan tier yang baik mampu meningkatkan kepercayaan pelanggan. Tingkat ketersediaan layanan yang tinggi dan sistem yang stabil membantu perusahaan membangun reputasi positif sekaligus menjaga kepuasan pengguna. - Mendukung Pemulihan Saat Terjadi Gangguan
Tier juga berperan penting dalam proses disaster recovery atau pemulihan bencana. Data center dengan tier tinggi biasanya memiliki sistem redundansi yang lebih baik sehingga dapat memulihkan operasional dengan lebih cepat ketika terjadi gangguan atau kondisi darurat.
Klasifikasi Tier Data Center
Sebagai lembaga yang memberikan sertifikasi data center, Uptime Institute menetapkan sejumlah standar untuk setiap tingkatan tier. Standar tersebut mencakup berbagai aspek penting yang secara keseluruhan menjadi acuan dalam menentukan kualitas infrastruktur data center. Berikut beberapa kriteria yang digunakan dalam klasifikasi tier data center.
- Ketersediaan layanan dan jaminan uptime
Menilai seberapa tinggi tingkat ketersediaan layanan serta jaminan operasional data center tanpa gangguan. - Sistem daya dan pendingin
Meliputi infrastruktur kelistrikan serta sistem pendingin yang digunakan untuk menjaga performa perangkat tetap optimal. - Tingkat redundansi
Redundansi merupakan proses penyediaan komponen cadangan untuk mengantisipasi gangguan, baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan, sehingga operasional tetap berjalan. - Keahlian staf dan prosedur maintenance
Menilai kemampuan tim teknis dalam melakukan pemeliharaan, termasuk penanganan maintenance secara bersamaan tanpa mengganggu layanan. - Biaya layanan
Mengacu pada besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membangun, mengelola, dan menggunakan layanan data center sesuai tier yang dipilih. - Kecepatan penyediaan layanan untuk klien baru
Mengukur waktu yang diperlukan fasilitas data center dalam menyiapkan kebutuhan pengguna atau pelanggan baru. - Netralitas operator jaringan
Menunjukkan kemampuan data center dalam mendukung berbagai penyedia jaringan atau operator secara netral. - Keberlanjutan operasional
Menilai kemampuan data center dalam mendukung tujuan bisnis jangka panjang dan menjaga stabilitas operasional. - Sistem keamanan data center
Mencakup perlindungan fisik maupun digital guna menjaga keamanan data dan infrastruktur yang ada di dalamnya.
Tingkatan Tier pada Data Center
- Tier 1 (Basic Site Infrastructure)
Tier 1 merupakan tingkatan paling dasar dalam klasifikasi data center. Disebut basic karena server hanya memiliki satu jalur distribusi atau non-redundant. Artinya, apabila jalur tersebut mengalami gangguan, seluruh layanan dapat berhenti beroperasi. Tier ini biasanya digunakan perusahaan untuk kebutuhan on-premise server atau data center yang berada di area kantor.Data center tier 1 umumnya hanya mendukung operasional bisnis pada jam tertentu. Meski sudah dilengkapi UPS sebagai cadangan saat listrik padam, tingkat uptime yang dimiliki masih tergolong rendah, yaitu sekitar 99,671% per tahun. Dengan angka tersebut, potensi downtime bisa mencapai sekitar 28,8 jam dalam setahun sehingga kurang ideal untuk layanan yang membutuhkan ketersediaan tinggi.
- Tier 2 (Redundant Site Infrastructure Capacity Components)
Tier 2 memiliki konsep yang hampir sama dengan tier 1, tetapi sudah dilengkapi komponen cadangan atau redundansi pada beberapa bagian penting. Dengan adanya sistem backup, operasional masih dapat berjalan ketika salah satu komponen mengalami kerusakan.Pada tier ini, perusahaan biasanya sudah menggunakan generator set (genset), UPS, serta sistem pendingin yang lebih baik untuk menjaga kestabilan data center. Tingkat uptime tier 2 mencapai sekitar 99,741% per tahun dengan toleransi downtime maksimal sekitar 22 jam dalam setahun.
- Tier 3 (Concurrently Maintainable Site Infrastructure)
Tier 3 menawarkan kualitas yang lebih tinggi dibandingkan tier sebelumnya karena sudah memiliki lebih dari satu jalur uplink dan sistem redundansi yang lebih lengkap.Dengan infrastruktur tersebut, data center tetap dapat berjalan meskipun terjadi pemadaman listrik atau proses maintenance. Selain memiliki cadangan daya, tier 3 juga didukung dual koneksi internet agar layanan tetap stabil. Tingkat uptime-nya mencapai sekitar 99,982% per tahun dengan downtime hanya sekitar 1,5 hingga 1,6 jam per tahun.
- Tier 4 (Fault Tolerant Site Infrastructure)
Tier 4 merupakan tingkatan tertinggi dalam klasifikasi data center saat ini. Tier ini dikenal sebagai fault tolerant karena memiliki tingkat keamanan, redundansi, dan keandalan paling tinggi dibandingkan tier lainnya.Data center tier 4 dirancang agar tetap beroperasi meskipun terjadi gangguan pada salah satu komponen infrastruktur. Tingkat uptime yang dimiliki hampir sempurna, yaitu sekitar 99,995% per tahun dengan downtime hanya sekitar 26–30 menit dalam setahun. Karena tingkat keandalannya sangat tinggi, tier 4 sangat cocok digunakan oleh bisnis yang tidak boleh mengalami downtime, seperti layanan perbankan, rumah sakit, hingga platform digital berskala besar.
Mengapa Tier Penting untuk Data Center?
- Risiko Bisnis
Setiap downtime dapat menimbulkan dampak besar, baik secara finansial maupun terhadap reputasi perusahaan. Contohnya, website e-commerce yang tidak bisa diakses saat promo berlangsung atau aplikasi perbankan yang gagal memproses transaksi dapat menurunkan kepercayaan pelanggan terhadap layanan bisnis tersebut. - Biaya Downtime
Berdasarkan berbagai penelitian, downtime dapat menyebabkan kerugian bisnis hingga lebih dari USD 9.000 per menit. Nilainya bahkan bisa jauh lebih besar tergantung skala perusahaan. Dengan menggunakan data center ber-tier tinggi, risiko kerugian akibat downtime dapat diminimalkan secara signifikan. - Kesesuaian Terhadap Standar Keamanan
Banyak sektor industri diwajibkan mengikuti standar keamanan data tertentu. Data center dengan tier tinggi umumnya sudah dirancang untuk memenuhi berbagai sertifikasi keamanan seperti ISO 27001 maupun PCI Security Standards Council DSS. Hal ini membantu perusahaan lebih mudah memenuhi proses audit, menjaga keamanan data, sekaligus mengurangi potensi risiko hukum.
Kesimpulan
Memahami tier dalam data center menjadi hal penting bagi perusahaan maupun organisasi yang mengandalkan infrastruktur IT yang stabil dan terpercaya. Dengan mengetahui tingkatan yang sesuai dengan kebutuhan, mereka dapat menentukan pilihan penyedia layanan data center yang paling tepat. Itulah penjelasan singkat mengenai pengertian tier pada data center beserta tingkatannya. Semoga informasi ini dapat membantu Teman Dino memahami konsep tier data center dengan lebih mudah.
